subscribe to the RSS Feed

Wednesday, March 10, 2010

What’s In a Nickname?!

Posted by Syam on March 3, 2010

apalah arti sebuah nickname

apalah arti sebuah nickname

Jikalau anda ingin mengetahui arti sebuah nama, jangan bertanya pada Shakespeare. Dia tidak punya ide. Sungguh!

Seandainya kita punya pertanyaan lain, misalkan saja, “What’s in a nick-name?” Juga jangan mengirim email pada penulis roman Romeo & Juliet itu. Kita sudah terlambat.

Barangkali ada gagasan lain. Misal, menyebar pertanyaan melalui milis-milis atau bahkan menggunakan jasa Lembaga Survey Indonesia untuk melakukan pooling.Niscaya akan banyak jawaban yang bisa ditangguk.

Semua orang punya alasan untuk membuat nickname atawa nama samaran-nya. Istri saya menggunakan nickname Bunga Rumput Liar yang sering disingkat BuRuLi karena merasa nama itu sebagai personifikasi dirinya. Koko Bae (almarhum), seorang pelukis di Palembang, dan Dick Doang memilih nickname untuk menegaskan bahwa panggil mereka nama Koko dan Dick saja. Yapi Panda Abdiel Tambayong memilih nickname Remi Sylado. Nama itu ia ambil dari 5 nada pertama pada lagu All My Loving-nya The Beatles, re mi si la do…

Tiba-tiba saya teringat pada WAIT! There is more to read… read on »

Petani Sumatra Malas?

Posted by Syam on March 2, 2010

Para puan mencari kutu, gambar comotan

Para puan mencari kutu, gambar comotan

Petani Sumatra, khususnya masyarakat asli, malas! Demikian kerap terdengar. Sungguhkah demikian?

Di Prabumulih, dalam Sumatra, hingga akhir dekade 1980, saya masih kerap melihat sebuah pemandangan menarik. Ketika para pegawai negeri atau pegawai swasta mulai bekerja, laki-laki petani mulai beristirahat, dan sebentar lagi kalau tak ngopi di rumah, andun ke warung kopi. Kalau tak sekadar berbual, main dum (domino).

Perempuannya? Duduk berurut dari pangkal tangga hingga puncak di tundan rumah panggung. Jari-jemari menari, menelisik rambut perempuan lain yang duduk di satu anak tangga di bawahnya? Mencari kutu sambil bercerita ngulu-ngilir. Memandangi anak-anak mereka, ceria bermain di halaman.

Ini bukti nyata bahwa petani Sumatra malas?!

Masyarakat petani Sumatra Selatan, khususnya petani Prabumulih yang cukup saya pahami, mereka punya pola WAIT! There is more to read… read on »

Tradisi Kelakar Betok Masyarakat Palembang

Posted by Syam on February 28, 2010

Pada sebuah warung sayuran, perempuan Palembang berbelanja. Dia menyebutkan apa yang hendak dia beli dalam jumlah serba sedikit. Kangkung hanya seikat, minyak sayur hanya satu sloki, dan 3 ikan asin kecil.

Ketika ditanya kenapa belanja kangkung cuma sekebat, sang perempuan menyimbat, “Ai, kangkung nih bukan untuk disayur. Biasolah, Mang Cik kau baru miaro kelinci. Nak makan kangkung nian. Dak galak makan rumput biaso.”

Mengenai ikan asin kecil yang juga hanya sedikit, hanyalah untuk memberi pakan kucing. Tentang minyak sayur yang hanya setakar kecil, “Mang Cik kau masuk angin! Minta kerik!”

Betok (Anabas testudineus), image colongan dari blog orang

Betok (Anabas testudineus), image colongan dari blog orang

Anekdot di atas hanya salah satu anekdot popular di Palembang. Tradisi berkelakar demikian kental di aliran Musi. Dimana-mana gampang ditemui orang berkelakar.

Masyarakat Palembang yang saya kenal adalah masyarakat pengelakar. Di sana pertama kali saya dengar istilah “pakar”. Pacak Bekelakar. Pacak artinya bisa. Atau, utak-atik saja dari pacak menjadi cakap. Dari cakap yang artinya pandai ke cakap yang artinya bual. Bukan bual dalam arti sekarang yang dipakai untuk sebut “omong besar”. Omong besar bukan bual. Itu, ngawak!

Kelakar adalah seni. Salah satunya fungsinya, ikhtiar menertawai diri sendiri. Anekdot di atas adalah cerminan masyarakat Palembang menertawakan fenomena langguk yang tumbuh sebagai stereotip sebagian masyarakatnya.

Kelakar adalah seni guyon yang tumbuh macam jamur di musim hujan. Ia mirip tak kenal kelas. Tumbuh dan hidup pada segala strata. Tumbuh di rumah-rumah rakit, sampai sisa-sisa kejayaan rumah limas. Kelakar bahkan tumbuh di rawa-rawa Palembang yang dahulunya memenuhi 2/3 Palembang.

Seni kelakar tingkat tertinggi dijuluki “kelakar betok”. Betok (Anabas testudineus) adalah sejenis ikan perairan tawar, paling gampang tertemui di rawa. Sisiknya gelap keemasan-kehijauan, dagingnya padat, siripnya acap lebih mirip duri yang bisa melukai meski tak berbisa. Ikan ini bisa memanjat ke daratan untuk berpindah dari satu cekungan ke cekungan rawa lainnya. Karenanya, dalam bahasa Inggris betok didapuk dengan nama climbing gouramy.

Kelakar betok… isinya bisa dianggap bual angin. Lambas-melambas dari satu wacana ke wacana lain, dari satu tema ke tema lain. Pengelakar betok mirip tertuntut tahu banyak tentang apa saja. Ngulu-ngilir, ngalor-ngidul. Melintas sana-sini. Menyebrang sisi-sisi.

Kenapa tradisi ini muncul? Tanya pengelana yang kebetulan tandang menikmati lantun riak air Musi. Saya tak punya referensi apapun selain kecurigaan. Kecurigaan pertama, lahir sebagai otokritik terhadap fenomena sosial yang tumbuh di Palembang. Kecurigaan kedua, lahir sebagai cara untuk melenturkan penat pikiran di kehidupan keras masyarakat Palembang.

Supaya mudah, saya kira tradisi ini memiliki ruh yang sama dengan seni bergurai di ranah lain. Misal, seni gurau masyarakat Betawi seperti yang tertampil dalam Lenong, tradisi ngabodor di Sunda, gurau ndobos di masyarakat Yogyakarta, atau seni parikan yang sering nyelip dalam pementasan ludruk Jawa Timur-an.

Apa pun, semoga tradisi kelakar betok tetap lestari meski habitat betok, rawa, terancam penimbunan. Penimbunan yang telah mematikan sekitar 100-an kanal (sungai) pada Palembang yang berjuluk Venesia dari Timur ini. Penimbunan yang dinamai proyek reklamasi. Padahal cuma kelakar betok untuk menyamarkan semangat aslinya, de-rewa-isasi.###

[SyamAR; Cijapun, 28 Februari 2010]

#Image dicomot dari Zona Ikan… mungkin pula si sumber nyomot dari tempat lain :)

Cijapun, Apaan Sih?

Posted by Syam on February 25, 2010

Catatan Kecil Ary Amhir

cijapun, timbuktu sister city =))

cijapun, timbuktu sister city =))

Kalau mau melihat barisan itik terjun ke kolam, membentuk formasi kwek-kwek segitiga besar, datanglah ke Cijapun. Atau ingin memandang arak-arakan awan dari atas bukit-bukit menghijau dengan tangan sibuk mengusir nyamuk, bisa dari Cijapun. Atau mau merasai aneka ikan goreng kecil hasil mancing sendiri, boleh singgah ke Cijapun.

Tapi jangan berharap Cijapun itu seperti daerah di puncak, atau peristirahatan di Selabintana, atau di Kampung Pending. Jauh deh ! Tak ada penginapan nyaman, jalan yang enak dan mudah dilalui, atau kemudahan lainnya. Apalagi jika ingin menjenguk pertapaan si petani malas. Boro-boro mo nonton teve, sinyal hp aja itil alias ilang timbul. Jadi no contact kecuali via antena. Masih tertarik berkunjung ?

Ke Cijapun tidaklah sulit walau sedikit ribet. Dari terminal bus LeBus WAIT! There is more to read… read on »

Si Bandel Cung Kendire!

Posted by Syam on February 3, 2010

Cung kendire, tomat cherry lokal. foto; koleksi pribadi

Cung kendire ( Solanum Lycopersicum cerasiforme), tomat cherry lokal . Ketika difoto, semak sudah sedikit disiangi. Foto; koleksi pribadi

Beberapa hari lalu, saya berniat mengolah bedengan di petak sesayur yang sudah cukup lama dibero, diistirahatkan. Rumput-rumputnya sudah tinggi. Niatnya, cabut rumput di tengah petak, rumput di tepi bedengan dipangkas sekadarnya supaya tetap bisa menahan erosi. Saya menemukan “Si Bandel” bersembunyi di balik rimbun rumput.

Si Bandel adalah Cung, nama panjangnya Cung Kendire dalam Prabumulihan, atau cung kendiro dalam Palembangan. Nama yang mengingatkan saya pada pantun pendek;

Cung kendire,
Banyak cucung tambah sare

Dalam Palembangan, ganti saja “kendire” dan “sare” dengan “kendiro” dan “saro“. “Banyak cucung tambah saro” artinya, “banyak cucu tambah (bikin) susah”.

Apa, iya? Tak usah dipikirkan, ini seloroh.

Foto

Di bahasa Sunda cung dinamai kemir. Di karfur (ditulis ala Deva), dia tomat cherry! Tomat seukuran kelereng. Saya menyukai rasa asamnya. Enak betul dijadikan sambal. Baik sambal matang atau mentah. Di restoran menado, sering saya lihat cung mentah (masih hijau) diiris dalam sambal.

Cung si tomat cherry varietas lokal saya bawa dari kampung halaman. Dia bandel, cukup tanam sekali, nanti ada buah masak yang jatuh, tumbuh generasi berikutnya.

Betul-betul bandel si lokal. Saya bandingkan dengan tomat cherry varietas lain yang sedang saya ujitanam. Sumber benihnya hasil memencet tomat cherry yang didapat di sebuah supermarket. Sangat mungkin kerabat cung itu varietas impor.

Sementara si tomat cherry impor rata-rata sekarat diserang busuk akar (disengaja tanpa pengendalian), si cung menunjukkan ketangguhannya. Bandel. Walau sedikit berbintik hitam, buah-buah ranumnya anggun di tengah semak.Dasar anak kampung!

[SyamAR; Cijapun, 02 Februari 2010]

Surat Cinta untuk Ms. Veggie

Posted by Syam on January 28, 2010

tomat dan mulsa alami

tomat dan mulsa alami

Tulisan ini saya salin (publish ulang dari blog saya di kompasiana.


Sebenarnya saya sudah tersentil sedari Ika Tak Jadi Membakar Surat Cinta. Lalu Engkong Ragile yang makin rada gile mabuk kepayang lantaran surat cinta. Dan itu belum selesai, sampai Mariska membacakan roman sepucuk surat cinta dari sang pejoeang yang berakhir dengan sebuah kuis berpacul dalam melodi.

Sampailah pada Ferdi yang menggelitik dengan mengangkat derajad sampah. Tak ada niat saya untuk bilang surat cinta sama dengan sampah. Saya masih menyimpan surat-surat cinta. Meski tak utuh, tapi ada satu berbalasan yang kami bingkai…

Tapi, ketimbang dibakar atau dihibahkan untuk kertas pembungkus belacan (terasi) di warung tetangga, mending kasihkan pada Ms. Veggie si nona sesayur. Jadikan dia mulsa, penutup tanah, pengurang gulma.

Di kebun, pernah saya coba memanfaatkan koran bekas sebagai mulsa. Jika ingin coba, surat cinta mungkin akan memberi kesenangan lebih bagi para sesayur. Sebab koran isinya kebanyakan tentang bencana, kabar duka, dan skandal kejahatan negara. Tak ada apa-apanya dibanding selembar surat cinta.

Bila berminat mencoba di halaman rumah, silakan saja:

koran bisa diganti surat cinta, ha ha

koran bisa diganti surat cinta, ha ha

  1. Siapkan surat cinta lama yang sudah anda relakan, bisa juga membuat surat cinta baru yang sengaja ditulis untuk nona-nona sesayur,
  2. Siapkan petak yang akan ditanami, sudah dalam kondisi tergemburkan dan berpupuk organik lebih baik,
  3. Tebar surat cinta anda hingga menutupi petak yang akan ditanami,
  4. Ciprati air dan lembabkan supaya tak terbang-terbang,
  5. Tutupi dengan bahan mulsa alami lain, macam daun-daunan kering, sisa sampah dapur (bungkus mie instan, kaleng sarden, dan kemasan an-organik, jangan disertakan.
  6. Ya, sudah… Tanami. Jangan lupa kalo meletakkan biji benih atau bibit sesayur, coblos sampai menembus lapisan kertas surat cinta anda. Akar tanaman berada di bawah lapisan kertas.
  7. Rawat baik-baik dan tunggu balasan surat cinta dari para nona sesayur.

Turut berbahagia. Semoga menjadi kabar baik.

Salam hangat selalu!

[SyamAR; Cijapun, 24 Januari 2010]

NB:

#1. Delapan tambah delapan, enam belas… harapan pasti berbalas.

#2. Bagaimana dengan logam berat yang dikandung tinta? Timbang sendiri, atau baca artikel ini,

#3. Karena sungkan motret dan melakukan demonstrasi, saya comot saja ilustrasi pendukung dari sini, nih!

Cuma Gus Dur… Kepada Petani

Posted by Syam on December 31, 2009

Gus Dur bersama Henry Saragih (Ketua Umum SPI) dalam Konferensi Internasional Gerakan Rakyat Melawan Penjajahan Baru (15-17 September 2006). Gambar Comotan dari Facebook teman

Gus Dur bersama Henry Saragih (Ketua Umum SPI) dalam Konferensi Internasional Gerakan Rakyat Melawan Penjajahan Baru (15-17 September 2006). Gambar Comotan dari Facebook teman

Cuma Gus Dur, presiden yang sumbangsihnya terhadap perjuangan kaum tani terlihat.

Semasa membagai presiden, dia pernah nyatakan bahwa tanah perkebunan sesungguhnya adalah hak rakyat yang diambil oleh perusahaan-perusahaan. Kami baca itu sebagai persetujuan Gus Dur terhadap perjuangan Pembaruan Agraria yang dilakukan kaum tani. Cuma Gus Dur yang pernah berargumen bahwasanya 40 persen tanah perkebunan seharusnya didistribusikan kepada rakyat.

Cuma Gus Dur semasa mempresiden, ketika sebuah PTPN (PT Perkebunan Nusantara) berkonflik dengan petani, cuma Gus Dur (semasa Presiden), bisa bilang PTPN tidak mempunyai kontribusi apa-apa untuk daerah. Oleh karena itu, dia berharap, mudah-mudahan masalah PTPN bisa cepat selesai. “Buat apa negara mengurusi masalah-masalah kecil seperti PTPN. Negara itu mengurusi masalah yang gede-gede.

Cuma Gus Dur yang membuat petani tak lagi takut Babinsa.

Cuma Gus Dur yang membuat petani melihat merahnya nyala sin cia.

Cuma Gus Dur yang menginginkan petani bisa membaca apa saja. Pun yang terlarang pada satu masa.

Cuma Gus Dur, yang selalu kocak. Pun saat yang lain sedang pusing dibelit Gurita, dia kabur dengan tenang. Selamat Jalan, Presiden terakhir! Al Fatihah untukmu!

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes