Dehian Himbe alias Durian Rimba

31 August 2010 | By Syam in faunaflora, laman memoar, laman pernik | 3 Comments

durian dan lahong (merah). foto diambil dari tulisan Handoko Widagdo di Baltyra.com

Bila sedang pulang ke dusunlaman, Prabumulih, saya berkali-kali berpesan kepada dansanak untuk dicarikan biji satu jenis durian lokal. Kami menyebutnya dehian himbe (durian rimba).

Meski punya citarasa khas, durian jenis ini bukan durian yang dikenal karena rasanya. Yang terkenal enak biasanya jenis durian tembage, durian puan, dll. Durian tembage, daging buahnya kuning kemerahan seperti tembaga, tekstur dagingnya lembut meski tebal, beraroma wangi, manis disepuh rasa pahit alkohol yang lumayan tajam. Durian puan, berwarna putih susu, tekstur lembut, enak sekali.

Durian rimba, ukuran buahnya kecil, durinya rapat dan runcing. Daging buah yang menyelimuti bijinya juga tak tebal, dan berbau sedikit maung atau langu. Meski demikian, durian jenis ini paling enak dinikmati sebagai campuran dalam secangkir kopi durian.

Yang menarik, jenis durian ini tak bisa dibuka dengan cara konvensional dengan membuka “ruang” demi “ruang”. Dalam istilah Prabumulih, memang sesekali kita temukan kondisi “matah huang (mentah ruang)” pada jenis durian apapun, yakni kondisi dimana bilik kulit durian tempat dimana bagian yang dapat dimakan tersembunyi susah dibuka. Durian rimba ditakdirkan “mata huang“. Jadi, jangan berharap dapat menikmati durian rimba dengan teknik “belah duren” konvensional. Dehian himbe tak dapat dibelah. Ia musti ditetak, dipotong, untuk kemudian bisa dicungkil isinya.

Dalam satu perjalanan maya (blogwalking) saya menemukan lahong sebagaimana ditulis oleh Handoko Widagdo di Baltyra. Sekilas, kecuali warna kulitnya dehian himbe sama saja dengan lahong. Dehian himbe berkulit hijau sebagaimana durian pada umumnya, lahong berkulit merah.

Sayangnya, hingga hari ini saya belum pernah dapat kiriman biji durian rimba dari dusunlaman. Saya kantungi beberapa janji. Tapi tiap kali dikonfirmasi, saya selalu dapat gelengan. Ada yang disertai jawaban lupa, seringpula tak bertemu, dan sesekali durian itu tak berbuah di tahun ini. Mudah-mudahan belum punah.

Cara "belah duren" lahong. foto diambil dari tulisan Handoko Widagdo di Baltyra.com

*Foto: Handoko Widagdo

Cermin Rias Ms. Veggie

30 August 2010 | By Syam in budidaya organis, laman info, laman pernik, organisiana | No Comments Yet
Cermin pecah pun berguna untuk tanaman

Cermin pecah pun berguna untuk tanaman

[catatan berkebun petani malas]

Bukan cuma manusia yang perlu cermin rias. Ternyata cabe dan sesayur lain juga. Tidak percaya? Tak apa.

Saya hanya ingin cerita tentang temuan di kebun teman. Syahrul Yondri (Yon), petani biasa, tapi tak sembarang. Karyanya menjadi maskot sebuah kota. Dia petani cabe, sekaligus penemu bibit unggul cabe kopay. Kopay, kependekan Kota Payakumbuh.

Cabe varietas lokal temuan Yon ini berbeda dengan cabe keriting biasa. Tidak percaya? Coba ambil cabe di dapur anda dan ukur pakai mistar. Kalau panjangnya sampai 30 cm saja, top. Paling duapuluh senti. Kopay, panjangnya sampai 35 cm.

Ketika saya tandang ke Payakumbuh, saya menemukan banyak pecahan cermin digantung-gantung di dekat baris pokok cabe. Si cabe, macam nona cantik saja. Sampai-sampai perlu pakai cermin rias.

Dan ternyata itulah salah satu rahasianya. Menurut Yon, pemikiran sederhana untuk mendapat cabe Kopay tercantik adalah dengan memaksimalkan intensitas cahaya matahari. Makin banyak sinar matahari ditimpakan ke daun, kian banyak yang diserap daun, menyempurna proses fotosintesa, bertambah elok cabe yang dihasilkan.

Tak cukup dengan mulsa plastik hitam perak yang bagian peraknya dia cat ulang, Yon memanfaatkan cermin pecah. Sebagai pemantul (reflector) cahaya matahari tambahan menuju bawah daun.

Syahrul Yonri, Pawang cabe kopay dan temuan sederhananya

Syahrul Yonri, Pawang cabe kopay dan temuan sederhananya

Bila tak cermin, keping CD bekas pun bisa, plastik kemasan warna perak (bekas wadah makanan instan) pun dimanfaatkan Yon untuk cermin hias sang nona cabe.

Karena saya anggap plagiarisme dalam hal teknik tanam-tandur adalah halal, saya coba pula untuk rombongan Nona Sesayur atawa Ms. Veggie di kebun kecil saya. Hasilnya dia juga mengurangi serangan hama.

Bagaimana bisa? Pada tengah hari, sebagian serangga pengganggu berlindap di bawah daun. Menghindari sinar matahari. Pantulan sinar matahari dari cermin, keping cd , dan apapun berwarna perak berpotensi mengusik kenyamanan hama.

Atau, jangan-jangan… karena mereka melihat bayangan mahluk seram di cermin, para hama kabur ketakutan terbirit-birit ngacir. Ha ha.

Coba saja bila tertarik. Jangan sia-siakan keping cd bekas, cermin pecah, atau bekas kemasan makanan dari dapur anda. Bila tak berminat, kumpulkan keping cd bekas anda, kirim ke kebun saya :) [syamar] * * *

Balada Bakat Kriminal

29 August 2010 | By Syam in laman memoar, laman pernik | No Comments Yet

Masa lalu saya tidak keren!
[kutipan dari seorang Paman kocak nan inspiratif]

Karena masa lalu saya sama sekali tidak keren, saya ingin mencatatnya.

Sungguh ini bukan karena hampir dapat dipastikan tak akan ada biografi yang menulis tentang saya. Cuma karena setimbun yang tidak keren, masih terdapat keping yang layak saya kenang.

Seri keenam dalam Kisah Tak Keren SyamAR

* * *

Bakat Kriminal
Memoar Syam Asinar Radjam

//sharetv.org/

Victor and Hugo, Bunglers in Crime, sebuah serial kartun di tv. Gambar comotan dari http://sharetv.org/

Memang catatan kali ini ada pada urutan setelah Gara-Gara Tampang Kriminal, tapi sama sekali bukan sebuah sekuel! Sumpah! Ha ha…

Boleh saja abang saya sekarang mengelola sebuah Pesantren sembari me-lawyer, dan saya mengklaim sebagai “orang baik-baik” dari sekumpulan “orang-orang baik”. Tapi kami melalui masa kecil seperti sebuah seri kartun di tv; Victor and Hugo, Bunglers in Crime.

Lik Siam, pernah mencak-mencak! Ayamnya hilang. Pelakunya, hi hi… abang saya. Saya sih cuma Read Full Post

Balada Tampang Kriminal

26 August 2010 | By Syam in laman kelakar kelekar, laman memoar, laman pernik | No Comments Yet

Masa lalu saya tidak keren!
[kutipan dari seorang Paman kocak nan inspiratif]

Karena masa lalu saya sama sekali tidak keren, saya ingin mencatatnya.

Sungguh ini bukan karena hampir dapat dipastikan tak akan ada biografi yang menulis tentang saya. Cuma karena setimbun yang tidak keren, masih terdapat keping yang layak saya kenang.

Seri Kelima dalam Kisah Tak Keren SyamAR

* * *

Tampang Kriminal
Memoar Syam Asinar Radjam

bang napi

bang napi

Bila saya diizinkan mengutuk –terkait ketidakkerenan masa lalu dalam ceceran omongkosong kali ini–, maka yang ada hanyalah kebingungan. Apa atau siapa yang harus terkutuki; tampang saya nan kriminalis, kesialan nasib, atau Tuhan yang selalu tergoda untuk menjahili saya?

Kisah1: Saya pernah disangka copet!

Pengujung masa sekolah SMA. Sepulang studi-tour dari Krakatau Steel, Cilegon. Di tengah Selat Sunda, di atas Ferry, pucuk senja. Kebetulan di dek kapal berkumpul orang untuk berjamaah menyambut magrib.

Entah apa yang menggoda saya untuk shalat?!

Dalam rangka mengambil tempat sebagai jemaah, saya menyenggol punggung seseorang lelaki paruh baya. Setengah panik dia langung menoleh dan menuduh saya hendak mencopet dompetnya.

Saya gelagapan dituduh begitu. Tapi, tinjunya terlalu cepat menyusul tuduhan dari mulutnya, menghantam tipis pelipis saya.

Saya tertegun. Tidak membalas. Mungkin kaget, tapi lebih mungkin saya takut karena badannya dua kali lipat badan saya. Saya tidak sering berantem memang. Hanya beberapa kali sedari kecil hingga SMA. Tapi selalu mirip kalah.

Senja itu saya kira saya sempat menertawai kejahilan Tuhan. Apa saya kualat gara-gara ingin shalat?

Rasanya saya segera shalat. Karena katanya shalat mencegah perbuatan munkar. Tapi shalat saya cepat. Tak ikut imam.

Begitu sadar, di belakang saya sudah ada Dedi Umar, Sirez, Adi baok, Nangyu, Opin Ucamp dan lain-lain mungkin. Tak ingat semua. Mereka adalah para sahabat saya yang lebih suka berkelahi ketimbang makan. Rupanya sempat menyaksikan jap si merasa tercopet ke pelipis saya.

Setelah menanyai musabab tinju yang saya terima, tanpa ba-bi-bu, begitu sang petinju selesai mengucap dua salam, berdiri, dan membalikkan badan, dedi melompat. Mengantarkan tinjunya ke muka si penuduh. Disusul tinju teman-teman lain. Chaos! Si penuduh copet babakbelur.

Untungnya beberapa guru kemudian mengambil inisiatif menyelesaikan kasus pemukulan ini.

Orang yang menuduh saya pencopet mengaku terbebani pikiran. Dia dalam perjalanan pulang kampung karena orangtuanya sakit keras. Sementara itu dia hanya punya uang pas ongkos saja.

* * *

Kisah 2: Saya dikira pengedar

andreadams.com

tampang kriminal dalam bandit koboi. Gambar comotan dari : andreadams.com

Satu semester setelah saya melangsungkan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Seorang teman, adik tingkat, berKKN di desa tetangga tempat saya berKKN. Sebuah tepi hilir sungai Ogan.

“Namamu, mirip legenda!” puji teman saya. “Bahkan sampai desa tempat saya KKN.”

Saya mirip curiga dengan pujian itu.

Pekerjaan saya selama KKN cuma mengajari anak-anak membuat topeng, itu pun dengan bantuan seorang kawan. Jajang R Kawentar, seorang perupa. Seniman yang saya kagumi.

Selain itu saya cuma mengumpulkan anak-anak bermain-main di acara yang saya sebut “Bocah Pesta Panen”.

Karena curiga, tak ingin saya kejar apa maksud yang tersampaikan teman saya. Tapi dia menambahkan sendiri.

“Mereka bilang, dulu ada mahasiswa KKN yang mengedarkan ganja. Anak Pertanian juga. Gondrong, kurus. Namanya, Chandot!”

Sial, Chandot adalah salah satu nama saya!

Setahu saya memang ada keramaian pengguna ganja pada masa itu. Tapi siapa yang membawa dan menyebarkannya, saya tidak tahu dan tidak pula jadi urusan saya.

Kisah 3 dan seterusnya…

Kisah masa lalu yang tak keren terkait tudingan lucu-lucu, mungkin karena tampang kriminal yang melekati kulit muka saya, masih ada beberapa. Hanya, bila diteruskan pada catatan kali ini, ia hanya memperpanjang-lebar cerita.

Sudahlah… terlalu panjang, kasihan Ibu-Ibu. Terlalu lebar, kasihan Bapak-Bapak. :)

# # #

[Pondok Pesantren At-Taibin, 31 Agustus 2009]

* Pesan untuk Admin, awas ya kalo ditukar ke kategori fiksi lagi. Ini memoar. He he.* :)

Mi Telok, Mi Telok… | Balada Mie Instan (Plus) Telur…

25 August 2010 | By Syam in laman kelakar kelekar, laman memoar, laman pernik | No Comments Yet

Seri Kedua dalam Kisah-Kisah Tak Keren
Seri Pertama: Setiap Anak Punya Luka

Masa lalu saya tidak keren!
[kutipan dari seorang Paman kocak nan inspiratif]

Karena masa lalu saya pun sama sekali tidak keren, saya ingin mencatatnya.

Sungguh ini bukan karena hampir dapat dipastikan tak akan ada biografi yang menulis tentang saya. Cuma karena setimbun yang tidak keren, masih terdapat keping kenangan yang layak saya kenang.

* * *

Mi Telok, Mi Telok… | Balada Mie Instan Plus Telur…
Memoar Syam Asinar Radjam [Re-posting]

mie-yabi rasa ayam kampus. gambar nemu di cengir-kuda.blogspot.com

mie-yabi rasa ayam kampus. gambar nemu di cengir-kuda.blogspot.com

Supaya bisa punya uang jajan, supaya bisa beli alat tulis sedikit lebih baik, supaya bisa sesekali naik angkot menempuh 3 kilometer ke SMP, saya harus cari duit!

Begitulah.

Salah satu profesi yang sebenarnya layak masuk curriculum vitae-ku adalah menjadi ball-boy yang kami sebut kedi. Ball-boy? Haha. Keren juga. Serasa mirip Super-Hero macam Superboy, atau Soedirboy?

Padahal itu maksudnya, bocah pemungut bola tenis. Pekerjaan aneh demi orang-orang dewasa dapat mukul-mukul bola dan kalo nyangkut atau keluar lapangan nyuruh anak-anak berlarian. Dan anak-anak itu seharusnya berbakat menjadi sprinter… terlatih mengejar bola di bawah rezim smash!

Begitulah saya dan kami adalah Read Full Post

Pertanian Organik atau Organis?

24 August 2010 | By Syam in laman pernik, organisiana | No Comments Yet

Pertanian Organik atau Organis?
Catatan Berkebun: Syam Asinar Radjam*

organic_production

Istilah pertanian organik, rasanya sudah jamak dikenal masyarakat Iindonesia. Terutama masyarakat kota. Produk pertanian berembel organik pun mulai menempati rak-rak khusus di kios yang juga khusus dan supermarket.

Meskin sudah cukup dikenal, alih-alih Read Full Post

[Info Lomba] Menulis Artikel, Video, dan Foto Pertanian | kementerian Pertanian RI

16 August 2010 | By Syam in laman info, laman pernik | 1 Comment

Kementerian Pertanian Republik Indonesia langsungkan aneka lomba dengan tajuk “Apresiasi Program Pembangunan Pertanian 2010”. Yang dilombakan bukan lomba macul atau lomba bercocok tanam. Jadi, warga dusunlaman yang bukan petani dapat berpartisipasi. Justru, sekilas petani macam saya malah tak berkesempatan untuk ikut serta.

Dengan mengambil tema “ Pertanian Industrial Unggul Berkelanjutan yang Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Meningkatkan Kemandirian Pangan, Nilai Tambah, Daya Saing, Ekspor dan Kesejahteraan Petani” ada 5 macam lomba yang dilangsungkan, yakni:

  1. Penulisan Artikel Pertanian untuk Pelajar SMA/K dan Sederajat.
  2. Penulisan Artikel Pertanian untuk Mahasiswa.
  3. Penulisan Peliputan Pertanian untuk Pers.
  4. Foto Pertanian untuk Pers / Wartawan.
  5. Lomba Pembuatan Video Amatir Pertanian untuk Masyarakat.

Hadiahnya? Read Full Post

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes