Oleh : BuRuLi
Mohon jangan terburu nafsu dan menjadi salah paham. Anda barangkali akan segera tersenyum simpul atau mungkin terpancing untuk bersumpah serapah demi membaca judul yang telah saya sajikan di atas sana.
Busyet, dah ini orang… Bikin judul ato judul, yak?! Ha ha! Sesungguhnya sayalah yang pertama kali terkaget-kaget mendengar kata-kata di atas berseliweran bebas di dalam percakapan anggota keluarga “baru” saya, keluarga calon suami saya yang kebetulan adalah seorang Prabumulih.
Waktu itu, sepertinya kami, saya dan pacar saya (sekarang suami) sedang bersiap untuk berangkat pergi dari rumah kami di Prabusari, Prabumulih, menuju ke suatu tempat entah kemana, saya lupa. Tiba-tiba seorang tua (barangkali paman, saya juga lupa) berteriak kira-kira begini, bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia: “Hei, hendak kemana itu dua kelamin?”
Saya terpukau. Takjub dengan apa yang baru saja saya dengar. Antara merasa bingung dan hendak tertawa geli, saya memandangi pacar saya itu… minta penjelasan! Anda tentu bisa membayangkan rasanya mendengar kata “dua kelamin” yang diucapkan dengan santai sebagai sebutan untuk dua orang lain yang sedang berjalan bersama, bagi seorang yang bukan asli Prabumulih!
Dengan tertawa-tawa, akhirnya saya mendengarkan penjelasan tentang pemakaian kata kelamin untuk kata penunjuk satuan jumlah orang yang biasanya sepasang! Kenapa kelamin? tanya saya takjub. Padahal jawabannya sungguh sederhana: Itulah bahasa! dan ini Bahasa Melayu, lho… artinya jangan-jangan malah inilah aslinya cikal-bakal Bahasa Indonesia. Kenapa kelamin? Kenapa enggak?!
Belum selesai rasa geli saya ketika pada kesempatan yang lain saya mendengar sebuah kalimat lucu yang lain. Pada telinga saya yang awam kira-kira bunyinya begini: :”Apa nggak kemaluan itu orang pake baju model begitu”… Ha ha ha! Kemaluan! O… kata-kata itu…
Saya ngakak! Sungguh ngakak mendengarnya. Ini memang bahasa khusus (barangkali) Prabumulih. Dan akhirnya saya sungguh menikmati belanja telinga saya yang mendapatkan cara penggunaan kata seperti ‘kelamin’ dan ‘kemaluan’ yang tidak diucapkan dalam konteks tabu atau negatif. Sesuatu yang bukan sedang memaki atau bahkan bukan juga sedang membicarakan tentang “alat kelamin” yang biasa kita sebut dengan “kemaluan”.
Selanjutnya, saya mendengar calon kakak ipar saya waktu itu sedang menghitungi berapa jumlah piring rusak setelah dipakai dalam acara makan-makan saat lebaran: “Ini jahat… Ini juga jahat… Ini nggak… Ini bagus… Coba itu berapa ikok (ekor) yang jahat?” Hah? Piring jahat? Ada berapa ekor? Huahahaha…..
Lengkaplah sudah belanjaan Bahasa Prabumulih saya. “Kelamin” dan “kemaluan” yang bebas bergentayangan, dan barang-barang ber”ekor” yang bertampang “jahat“. Ha ha ha.
Ini adalah oleh-oleh paling menarik yang bisa saya bawa pulang ke Jakarta. Oleh-oleh yang masih bisa menerbitkan tawa kami berdua (saya dan mantan pacar saya itu/ sekarang suami).
Saya masih menunggu waktu untuk bisa pulang lagi ke Prabumulih, kampung suami saya itu, dan belanja banyak istilah dan kebiasaan unik yang bisa memperkaya kita semua.
Sekarang saya anggota ‘Darmawanita Prabumulih’… Artinya perempuan non-Prabumulih yang menikah dengan penduduk asli Prabumulih, dan saya selalu menikmati bebunyian dari mulut suami yang sedang bertelepon dengan kerabat dan handai-tolan sekampungnya.
Apa artinya? Kau tadi cerita apa? Itu pertanyaan saya selalu.[...]
LeBul, 4 Agustus 2007
Catatan Seorang Perempuan Pejalan Yang Menikah dengan Seorang Asli Prabumulih


istri bang sam ya salam kenal dari afrizal pengemar tulisan bang sam
He he,
Kalo gitu salam kenal dari Istrinya Syam Chandot
-Ria-
Waah Mak itu lah Pening bik cik, belum lagi mesen “es campah” . Es apaan tu ?? hehe
walau terlambat kasih komentar Tapi saya ucapkan selamat bergabung dgn keluarga prabumulih. dimana-mana bahsa memang selalu menarik.hahahahahahah
Ha ha saya bisa bayangkan “shock culturenya” bu ruli. Dulu, sekian tahun yg lalu setelah lulus SMPN I Prabu merantaulah ke Yogya. Dan hampir setiap liburan semester pasti pulang kampung ke Kebon Duren. Dan mulailah telinga ni jadi aneh. Suatu ketika saya “ingatkan” ke ibu saya, kalau ngomong dak usah kuat-kuat he he he. Dan satu kata lg yg mungkin belum didengar, yakni kalau menyumpah dengan menyebutkan “hubungan antara dua kelamin itu” yg dikaitkan dengan ortu kita…wah seru !!!!
Dan betul telinga ini udah kebal terutama dimasa kanak2 dulu………..
hahahahah……….lucu buanget bu !!!!!!!! saya asli orang prabumulih !, saking lucunya,aku yang lagi ketawa baca cerita ibu semua orang pada ikut ketawa di warnet…,prabumulih
@Pening: tentang es campah, Almarhumah BuRuLi pernah saya “tipu”… saya bilang itu es istimewa yang cuma bisa ditemukan di Palembang dan sekitarnya. Kejadiannya di salah satu gerai Martabak HAR.
Maka istri saya penasaran betul ingin mencoba es campah. Dan begitu es campah pesanan diantarkan ke dia… ia sedot satu seruput, BuRuLi cuma bisa bilang,” oooalaaah… es tawar, toh!”
@Pitok: walau terlambat, BuRuLi (alm)senang dengan kehangatan Prabumulih. Itu yang saya tahu.
@Andi Erwanto: He He… dibikin semacam direktori “nyumpah ala Prabumulih” mungkin ide bagus
@Lena: Terima kasih sudah suka tulisan BuRuLi
itulah ragam bahasa di indonesia ini yang patut kito banggake… (keren tulisanyo kak)
bener, sanak Aan.
mokasih, ye