Ngumpulin Bini Ganas Dari Palembang
Posted by Syam on December 28, 2009
*Ngumpulin Bini* dan *Nanas Palembang Ganas di Tatar Sunda*
Ngumpulin Bini
Saya masih terengah. Baru pulang keliling kebun kecil kami. Barusan tadi ada ibu-ibu sedang mengarit rumput di sawah menyapa saya sembari bertanya.
“Melak naon, Pak?” Maksudnya, “tanam apa, pak?”
Saya tak sedang menanam. Cuma sedang mengumpulkan benih kaliandra dari polong-polong yang sudah mengering di pucuk sesemak tanaman leguminosa itu. Maka saya jawab, “Ooo… bukan menanam. Ngumpulin benih kaliandra, bu.”
“Ooo… ngumpulin binih…” angguk si Ibu.
Ups, untung saya mendengar bunyi “H” diujung bunyi rangkai huruf B-I-N-I. Orang Sunda di sini membunyikan BENIH (biji-bijian bakal bibit tanaman) dengan BINIH.
* * *
Nanas Palembang Ganas di Tatar Sunda
Dekat dua tahun lalu, saya memeriksa berapa bibit nanas. Sengaja saya bawah dari kampung halaman. Sekadar tanaman koleksi untuk Cijapun. Nanas Prabumulih yang di pasar lebih dikenal sebagai Nanas Palembang.
Ketika bersiap menanam, Pak Yayan, Keamanan Cijapun, mendekat. “P-pak A-Can m-mau t-tanam b-buah g-ganas, ya?”
“Nanas, Pak.”
“I-iya. G-ganas.”
Saya bilang N-A-N-A-S sekali lagi. Dia berulang menyebut G-A-N-A-S. Ya, sudah. Saya mengangguk saja. Ambil aman.
Setelah santai, saya baru buka kamus bahasa Sunda yang saya dapat dari Kwitang. Ternyata, memang dalam Bahasa Sunda, padanan untuk kata (buah) nanas adalah GANAS dan DANAS.
Ai cacam! Hampir saya berpikir jangan kan orangnya, nanas Prabumulih saja bisa ganas di tatar Sunda.
* * *
[SyamAR; Cijapun ,26 Oktober 2009]
Leave a comment, and if you'd like your own picture to show up next to your comments, go get a gravatar!









