Tumbuhan Pemanggil Harimau

Karamunting (Rhodomyrtus tomentosa), tumbuhan pemanggil harimau? Koleksi cijapun

Pedie dengan tanam, Ndot*?” saya dengar suara lembut perempuan dari arah belakang saya. Umak. Ibu saya. Katanya, “Apa yang kau tanam, Ndot?”

“Karemunting, Mak!”

Ai nakku, ai… jalah tanam karemunting di tengah laman. Ngundang himau datang,” maksud ucap Umak adalah, “Ai nakku, ai… jangan tanam karamunting di tengah halaman (rumah). Mengundang harimau datang.”

Bibit karamunting yang saya ambil dari padangnya, tak jadi saya tanam. Berganti sebuah pertanyaan tertanam di kepala saya, saat umur barulah sepuluh tahun.

Umm… ada tumbuhan pemanggil harimau ternyata. Sungguh?
———————————–

Karemunting dilafal lidah saya disebut juga karamunting atau keromunting dan kadang diplesetkan kerobunting. Dalam latin ia dinamai Rhodomyrtus tomentosa. Sebuah tulisan di Trubus 2005-2006-an menyebut karamunting mulai dipakai sebagai tanaman penghias pagar di Amerika Serikat.

Hubungannya dengan harimau, saya kira karena karamunting biasanya menyemak di padang rumput. Maka pada kondisi lestari macam zaman terlewat, generasi Umak saya mungkin pernah lihat harimau di padang karamunting. Tempat dimana rusa-rusa juga merumput.
———————————–

Dari Prabumulih, saya sengaja bawa dua cabutan masih berakar. Setelah diadaptasi di rumah singgah di LeBul, karamunting ditanam di Cijapun. Dari dua bibit, satu mati. Yang tertumbuh, sudah mulai sering berbuah.

Bunganya cantik. Ungu terang dekat ke merah jambu. Buahnya mungil. Lebih ada lah sebuku terakhir kelingking. Warnanya juga ungu dekat ke hitam. Kulit buah berbulu halus macam beludru. Rasa buahnya manis.

Setiap gigitannya adalah cecap nostalgia!
———————————–

Datangkah sang harimau ke Cijapun? Ajajaja… harimau jawa sudah punah. Demikian kata pemerhati.

Tapi saya berkali bertemu kucing hutan atau dalam bahasa Sunda di sebut meong congkok. Dan sekali, lepas puncak malam, ketika menuju cijapun menumpang ojeker, saya mirip dihadang macan tutul.

Si totol kembang yang dalam selintas tampak berukuran setinggi domba garut dewasa, melintas pelan. Benar-benar, di depan kami dia catwalking. Menyeberang jalan yang membelah padang ilalang menuju Cijapun. Keren! Menakjubkan! Sampai lupa mengambil kamera di ransel untuk memotret.

Sang ojeker gugup. Diakuinya setiba di pondok Cijapun. Saya kira, kami malam itu selamat. Karena sang macan tak doyan mangsa yang kurus. Terlalu merepotkan. Sebab, mangsa kurus cuma enak disup.

Pertemuan tak sengaja malam itu, menyentil ingatan iseng yang mungkin tak berhubungan; Pada karamunting dan harimau.

[SyamAR; LeBul, 23 Maret 2010]

* Catatan kecil ini ini pernah dibagi di kompasiana

About Syam

Syam Asinar Radjam. Blogger perempat waktu. Sehari-hari bekerja sebagai petani malas yang menyerahkan diri pada kebaikan tanah.