Jalan Tani Ideal | Kisah 3 Petani

suatu hari berbual-bual bersama Shinpei Murakami dan Yukiko Oyanagi (dok. pribadi)

Pertama, catatan ringan ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan kawan Thomas Prasasti di komentar pada satu catatan saya di kompasiana. Kedua, ia adalah alat bantu pengingat bagi saya pribadi untuk memahami pertanian alami pada jalan yang benar.

Ketika saya mencoba berbual-bual tentang pertanian alami kepada sejumlah teman di tempat saya bermukim sementara sekarang, saya mencangkok pemikiran Masanobu Fukuoka yang dua bukunya mencengangkan saya. Beliau, yang saya anggap “nabi” pertanian alami menekankan 4 konsep dasar dalam pertanian alami (natural farming way). Dia namai do-nothing-farming method, teknik bertani cara malas. Ahaha!

Keempat prinsip dasar itu adalah; 1) tanpa olah tanah (no tillage/ no ploughing), 2) tanpa pupuk (bahkan tanpa kompos yang sengaja disiapkan), 3) tanpa penyiangan (no weeding), dan 4) tanpa bahan kimia. Sontak, salah satu kawan terkekeh menyimbat, “No harvesting!”

Masanobu Fukuoka, terang berhasil dengan jalannya. Meski ia hanya mengandalkan jerami dan pangkasan rumput sebagai bahan alami pembangun kesuburan tanah, ia memetik hasil panen yang bisa dibilang di atas angka produk pertanian tradisional Jepang maupun pertanian konvensional yang sarat bahan kimia-musti-beli. Akunya pada buku terlarang bagi petani alias The One Straw Revolution;

“Look at these fields of rye and barley. This ripening grain will yield about 22 bushels (1,300 pounds) per quarter acre. I believe this matches the top yields in Ehime Prefecture. If this equals the best yield in Ehime Prefecture, it could easily equal the top harvest in the whole country since this is one of the prime agricultural areas in Japan…and yet these fields have not been ploughed for twenty-five years.”

 

Pada 2008 saya sempat dua kali mengunjungi kebun organis Frater Agatho di Cisarua. Meski tak sempat bertemu langsung dengan beliau, saya tahu misionaris asal Swiss yang juga cucu dari pendiri dan pemilik pabrik pisau kenamaan Victorinox ini mengaku terinspirasi dari “sang nabi” Masanobu Fukuoka.

 

Tapi pada prakteknya, Frater Agatho melakukan improvisasi atas 4 jalan yang dianjurkan Masanobu. Frater Agatho melakukan olah tanah. Ia melakukan penggemburan tanah. Tak pakai bajak, tak pakai pacul, melainkan pakai garpu tanah. Salah satu alasan beliau, garpu mencegah terbunuhnya cacing dan mahluk hidup lain di tanah. Perbedaan kedua, dia menggunakan kompos yang sengaja dibuat. Penggunaan kompos utamanya dipakai pada tahap penyemaian bibit. Perbedaan ketiga, meski hanya pada situasi mendesak, kebun ini menggunakan bahan kimia-organis sari pati tumbuhan untuk mengatasi rebaknya serangga pengganggu tanaman.

Apakah yang dilakukan Frater Agatho menyimpang dari anjuran sang pemberi inspirasi?

Bulan lalu saya berkesempatan belajar pada satu praktisi pertanian alami dari Itate, Fukushima Prefecture, di Jepang. Namanya, Shinpei Murakami. Ia pengikut Masanobu Fukuoka. Kali pertama Shinpei menerapkan pemikiran Masanobu ketika ia diminta membangun proyek percontohan pertanian alami di Bangladesh.

Lahan yang akan dikelolanya di Bangladesh adalah kawasan akrab banjir. Sebelum ia datang, lahan seluas 1 hektar itu sudah ditinggikan dengan cara mengeruk satu bagian menjadi semacam sumur lebar, dan tanah dari sumur itu diangkut untuk ditumpukkan ke atas lapisan tanah subur.

“Tanah di lahan yang diminta untuk saya kelola sudah berpasir. Lapisan-atas tanah (top soil) sudah tertutupi. Saya tanya pada “boss” saya, mau cara cepat atau cara lambat? Tentu dia jawab mau cepat!”

Shinpei menyanggupi dan menyampaikan konsekuensinya adalah perlu biaya tinggi untuk tenaga kerja ekstra. Yang ia lakukan adalah penggalian ganda (double-digging). Galian pertama untuk mengangkat lapisan pasir sampai ke top-soil asli. Galian kedua untuk mengangkat lapisan tanah subur asli. Lalu setelah mencampurkan bahan organis (pupuk kandang, dll) ke masing-masing tanah, lapisan itu dikembalikan dengan posisi terbalik. Lapisan pasir di bagian bawah, lapisan subur asli di atasnya.

Pada 1989, dari Bangladesh Shinpei kunjungi Masanobu di Ehime Prefecture. Ketika “sang nabi” bertanya padanya apa yang ia terapkan dalam proyek pertanian alami di Bangladesh, Shinpei takut-takut. “Masanobu orangnya keras dan ketus! Dia bisa bilang dengan gampang yang kau lakukan adalah ketololan.”

Ternyata, kata Shinpei, Masanobu bukan jenis guru yang dogmatis. Seusai ia bercerita tentang apa yang ia lakukan… Masanobu tersenyum. “Jalanmu sudah benar, Shinpei!”

Banyak orang mencoba meniru mentah-mentah jalan Masanobu, lalu gagal total. Baik Shinpei maupun Agatho berhasil mempelajari jalan ini lalu menemukan jalan tembus yang selaras dengan jalan Masanobu. Dalam hal ini, ternyata saya beruntung. Meski proyek suka-suka saya berjalan amat pelan karena kondisi lahan yang parah, saya tak salah jalan. Cuma, jalannya kebanyakan zigzag!

Yup! Saya narsisis! Ganbate kudasai!

[SyamAR; Nasushiobara, 3 Agustus 2011]

About Syam

Syam Asinar Radjam. Blogger perempat waktu. Sehari-hari bekerja sebagai petani malas yang menyerahkan diri pada kebaikan tanah.