Posted by Syam on February 3, 2010

Cung kendire ( Solanum Lycopersicum cerasiforme), tomat cherry lokal . Ketika difoto, semak sudah sedikit disiangi. Foto; koleksi pribadi
Beberapa hari lalu, saya berniat mengolah bedengan di petak sesayur yang sudah cukup lama dibero, diistirahatkan. Rumput-rumputnya sudah tinggi. Niatnya, cabut rumput di tengah petak, rumput di tepi bedengan dipangkas sekadarnya supaya tetap bisa menahan erosi. Saya menemukan “Si Bandel” bersembunyi di balik rimbun rumput.
Si Bandel adalah Cung, nama panjangnya Cung Kendire dalam Prabumulihan, atau cung kendiro dalam Palembangan. Nama yang mengingatkan saya pada pantun pendek;
Cung kendire,
Banyak cucung tambah sare
Dalam Palembangan, ganti saja “kendire” dan “sare” dengan “kendiro” dan “saro“. “Banyak cucung tambah saro” artinya, “banyak cucu tambah (bikin) susah”.
Apa, iya? Tak usah dipikirkan, ini seloroh.

Foto
Di bahasa Sunda cung dinamai kemir. Di karfur (ditulis ala Deva), dia tomat cherry! Tomat seukuran kelereng. Saya menyukai rasa asamnya. Enak betul dijadikan sambal. Baik sambal matang atau mentah. Di restoran menado, sering saya lihat cung mentah (masih hijau) diiris dalam sambal.
Cung si tomat cherry varietas lokal saya bawa dari kampung halaman. Dia bandel, cukup tanam sekali, nanti ada buah masak yang jatuh, tumbuh generasi berikutnya.
Betul-betul bandel si lokal. Saya bandingkan dengan tomat cherry varietas lain yang sedang saya ujitanam. Sumber benihnya hasil memencet tomat cherry yang didapat di sebuah supermarket. Sangat mungkin kerabat cung itu varietas impor.
Sementara si tomat cherry impor rata-rata sekarat diserang busuk akar (disengaja tanpa pengendalian), si cung menunjukkan ketangguhannya. Bandel. Walau sedikit berbintik hitam, buah-buah ranumnya anggun di tengah semak.Dasar anak kampung!
[SyamAR; Cijapun, 02 Februari 2010]
Posted by Syam on June 2, 2008

Oleh: Syam Asinar Radjam
Ada yang membuat kunjungan saya ke Bogor beberapa bulan lalu (28/02) berbeda. Jus buah kemang!
Kemang (Mangifera kemanga caecea) bukanlah buah asing bagi saya. Sejak kecil saya mengenal buah yang berkerabat dengan mangga (Mangifera indica) ini. Tapi, kali pertama menikmatinya dalam bentuk WAIT! There is more to read… read on »
Posted by Syam on May 29, 2008
Oleh: Syam Asinar Radjam
Pada masa kecil saya, perkampungan di dusunlaman Prabumulih masih didominasi oleh rumah panggung berbahan kayu. Kolong rumah kebanyakan dibiarkan kosong. Di sanalah anak-anak sering bermain.
Kalau sedang kehabisan ide bermain, berburu kumbang kayu adalah alternatif. Namanya memang kumbang, tapi WAIT! There is more to read… read on »
Posted by Syam on May 25, 2008
Oleh: Syam Asinar Radjam
Lahir dan besar di kampung, membuat kami (saya dan teman-teman sebaya di masa kecil) tak sulit untuk bersenang-senang dengan apa saja yang ditemukan di alam.
Binatang pun bisa jadi teman bermain. Salah satunya, tengkadak. Jenis serangga yang juga dikenal dengan nama WAIT! There is more to read… read on »
Posted by Syam on
Oleh: Syam Asinar Radjam
“Behadulah njelit! Dek njelit bai, mate dengan lah jegil. Lok sentadu.”
Dulu, saya sering sekali mendengar kalimat senada dengan di atas. Dalam bahasa Indonesia, kalimat berbahasa Rambang (Prabumulih) di atas berarti WAIT! There is more to read… read on »
Posted by Syam on
Oleh: Syam Asinar Radjam
Belakangan ini, tanaman puring (crotons) naik daun. Padahal, awalnya ia lebih dikenal sebagai tanaman kuburan.
Maklum, puring memang banyak dijadikan WAIT! There is more to read… read on »
Posted by Syam on April 2, 2008
Oleh: Syam Asinar Radjam

Di dusunlaman, Prabumulih, masyarakat menyebut jenis jamur ini “tihau tikus”. Masyarakat di beberapa daerah lain di sumsel menamainya “tihau gerigit” atawa “tirau gerigit”.
Jenis jamur ini paling mudah ditemukan pada WAIT! There is more to read… read on »