subscribe to the RSS Feed

Friday, March 12, 2010

Nama Tanpa Makna

Posted by Syam on March 11, 2010

penjelas sekadarnya

penjelas sekadarnya

Ketika saya menjawab pertanyaan seorang kawan, penyair yang juga juru masak di negeri Kincir Angin, jadilah “What’s in a Nickname” di blog lama saya softTEXT*. Jangan tanya Shakespeare! Soal makna nama dia tak punya ide, he he! Soal arti nickname, sudah terlambat menanyai penyair itu. Ha ha!

Melalui kolom komentar, kawan tadi mengingatkan ulang, bahwa semua nama punya makna. “Tengok budaya Indian dalam memberi nama pada anak, atau tradisi Batak,” anjurnya.

Nama adalah doa, demikian dipercaya banyak orang. Konon terutama, dalam tradisi Arab.

Saya terkenang nama-nama yang tercatat di Penyiratan Pati Pancak, komplek pemakaman keluarga kami. Pertama tertulis WAIT! There is more to read… read on »

What’s In a Nickname?!

Posted by Syam on March 3, 2010

apalah arti sebuah nickname

apalah arti sebuah nickname

Jikalau anda ingin mengetahui arti sebuah nama, jangan bertanya pada Shakespeare. Dia tidak punya ide. Sungguh!

Seandainya kita punya pertanyaan lain, misalkan saja, “What’s in a nick-name?” Juga jangan mengirim email pada penulis roman Romeo & Juliet itu. Kita sudah terlambat.

Barangkali ada gagasan lain. Misal, menyebar pertanyaan melalui milis-milis atau bahkan menggunakan jasa Lembaga Survey Indonesia untuk melakukan pooling.Niscaya akan WAIT! There is more to read… read on »

Petani Sumatra Malas?

Posted by Syam on March 2, 2010

Para puan mencari kutu, gambar comotan

Para puan mencari kutu, gambar comotan

Petani Sumatra, khususnya masyarakat asli, malas! Demikian kerap terdengar. Sungguhkah demikian?

Di Prabumulih, dalam Sumatra, hingga akhir dekade 1980, saya masih kerap melihat sebuah pemandangan menarik. Ketika para pegawai negeri atau pegawai swasta mulai bekerja, laki-laki petani mulai beristirahat, dan sebentar lagi kalau tak ngopi di rumah, andun ke warung kopi. Kalau tak sekadar berbual, main dum (domino).

Perempuannya? Duduk berurut dari pangkal tangga hingga puncak di tundan rumah panggung. Jari-jemari menari, menelisik rambut perempuan lain yang duduk di satu anak tangga di bawahnya? Mencari kutu sambil bercerita ngulu-ngilir. Memandangi anak-anak mereka, ceria bermain di halaman.

Ini bukti nyata bahwa petani Sumatra malas?!

Masyarakat petani Sumatra Selatan, khususnya petani Prabumulih yang cukup saya pahami, mereka punya pola WAIT! There is more to read… read on »

Tradisi Kelakar Betok Masyarakat Palembang

Posted by Syam on February 28, 2010

Pada sebuah warung sayuran, perempuan Palembang berbelanja. Dia menyebutkan apa yang hendak dia beli dalam jumlah serba sedikit. Kangkung hanya seikat, minyak sayur hanya satu sloki, dan 3 ikan asin kecil.

Ketika ditanya kenapa belanja kangkung cuma sekebat, sang perempuan menyimbat, “Ai, kangkung nih bukan untuk disayur. Biasolah, Mang Cik kau baru miaro kelinci. Nak makan kangkung nian. Dak galak makan rumput biaso.”

Mengenai ikan asin kecil yang juga hanya sedikit, hanyalah untuk memberi pakan kucing. Tentang minyak sayur yang hanya setakar kecil, “Mang Cik kau masuk angin! Minta kerik!”

Betok (Anabas testudineus), image colongan dari blog orang

Betok (Anabas testudineus), image colongan dari blog orang

Anekdot di atas hanya salah satu anekdot popular di Palembang. Tradisi berkelakar demikian kental di aliran Musi. Dimana-mana gampang ditemui orang berkelakar.

Masyarakat Palembang yang saya kenal adalah masyarakat pengelakar. Di sana pertama kali saya dengar istilah “pakar”. Pacak Bekelakar. Pacak artinya bisa. Atau, utak-atik saja dari pacak menjadi cakap. Dari cakap yang artinya pandai ke cakap yang artinya bual. Bukan bual dalam arti sekarang yang dipakai untuk sebut “omong besar”. Omong besar bukan bual. Itu, ngawak!

Kelakar adalah WAIT! There is more to read… read on »

Cijapun, Apaan Sih?

Posted by Syam on February 25, 2010

Catatan Kecil Ary Amhir

cijapun, timbuktu sister city =))

cijapun, timbuktu sister city =))

Kalau mau melihat barisan itik terjun ke kolam, membentuk formasi kwek-kwek segitiga besar, datanglah ke Cijapun. Atau ingin memandang arak-arakan awan dari atas bukit-bukit menghijau dengan tangan sibuk mengusir nyamuk, bisa dari Cijapun. Atau mau merasai aneka ikan goreng kecil hasil mancing sendiri, boleh singgah ke Cijapun.

Tapi jangan berharap Cijapun itu seperti daerah di puncak, atau peristirahatan di Selabintana, atau di Kampung Pending. Jauh deh ! Tak ada penginapan nyaman, jalan yang enak dan mudah dilalui, atau kemudahan lainnya. Apalagi jika ingin menjenguk pertapaan si petani malas. Boro-boro mo nonton teve, sinyal hp aja itil alias ilang timbul. Jadi no contact kecuali via antena. Masih tertarik berkunjung ?

Ke Cijapun tidaklah sulit walau sedikit ribet. Dari terminal bus LeBus WAIT! There is more to read… read on »

Si Bandel Cung Kendire!

Posted by Syam on February 3, 2010

Cung kendire, tomat cherry lokal. foto; koleksi pribadi

Cung kendire ( Solanum Lycopersicum cerasiforme), tomat cherry lokal . Ketika difoto, semak sudah sedikit disiangi. Foto; koleksi pribadi

Beberapa hari lalu, saya berniat mengolah bedengan di petak sesayur yang sudah cukup lama dibero, diistirahatkan. Rumput-rumputnya sudah tinggi. Niatnya, cabut rumput di tengah petak, rumput di tepi bedengan dipangkas sekadarnya supaya tetap bisa menahan erosi. Saya menemukan “Si Bandel” bersembunyi di balik WAIT! There is more to read… read on »

Surat Cinta untuk Ms. Veggie

Posted by Syam on January 28, 2010

tomat dan mulsa alami

tomat dan mulsa alami

Tulisan ini saya salin (publish ulang dari blog saya di kompasiana.


Sebenarnya saya sudah tersentil sedari Ika Tak Jadi Membakar Surat Cinta. Lalu Engkong Ragile yang makin rada gile mabuk kepayang lantaran surat cinta. Dan itu belum selesai, sampai Mariska membacakan roman sepucuk surat cinta dari sang pejoeang yang berakhir dengan sebuah kuis berpacul dalam melodi.

Sampailah pada Ferdi yang menggelitik dengan mengangkat derajad sampah. Tak ada niat saya untuk bilang surat cinta sama dengan sampah. Saya masih menyimpan surat-surat cinta. Meski tak utuh, tapi ada satu berbalasan yang kami bingkai…

Tapi, ketimbang dibakar atau dihibahkan untuk kertas pembungkus belacan (terasi) di warung tetangga, mending kasihkan pada Ms. Veggie si nona sesayur. Jadikan dia mulsa, penutup tanah, pengurang gulma.

Di kebun, pernah saya coba memanfaatkan koran bekas sebagai mulsa. Jika ingin coba, surat cinta mungkin akan memberi kesenangan lebih bagi para sesayur. Sebab koran isinya kebanyakan tentang bencana, kabar duka, dan skandal kejahatan negara. Tak ada apa-apanya dibanding selembar surat cinta.

Bila berminat mencoba di halaman rumah, silakan saja:

koran bisa diganti surat cinta, ha ha

koran bisa diganti surat cinta, ha ha

  1. Siapkan surat cinta lama yang sudah anda relakan, bisa juga membuat surat cinta baru yang sengaja ditulis untuk nona-nona sesayur,
  2. Siapkan petak yang akan ditanami, sudah dalam kondisi tergemburkan dan berpupuk organik lebih baik,
  3. Tebar surat cinta anda hingga menutupi petak yang akan ditanami,
  4. Ciprati air dan lembabkan supaya tak terbang-terbang,
  5. Tutupi dengan bahan mulsa alami lain, macam daun-daunan kering, sisa sampah dapur (bungkus mie instan, kaleng sarden, dan kemasan an-organik, jangan disertakan.
  6. Ya, sudah… Tanami. Jangan lupa kalo meletakkan biji benih atau bibit sesayur, coblos sampai menembus lapisan kertas surat cinta anda. Akar tanaman berada di bawah lapisan kertas.
  7. Rawat baik-baik dan tunggu balasan surat cinta dari para nona sesayur.

Turut berbahagia. Semoga menjadi kabar baik.

Salam hangat selalu!

[SyamAR; Cijapun, 24 Januari 2010]

NB:

#1. Delapan tambah delapan, enam belas… harapan pasti berbalas.

#2. Bagaimana dengan logam berat yang dikandung tinta? Timbang sendiri, atau baca artikel ini,

#3. Karena sungkan motret dan melakukan demonstrasi, saya comot saja ilustrasi pendukung dari sini, nih!

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes