Pertamina, Kuda Laut vs Gurita
Posted by Syam on December 28, 2009
Bukan karena latah lantaran issue korupsi sedang trendi di negeri ini, maka dusunlaman mengangkat tema korupsi pada tulisan kali ini! Tapi mengangkat derajad BUMN macam Pertamina menjadi sebuah perusahaan tingkat dunia pasti selalu gagal bila tak bersih dari korupsi.
Bukan semata karena sedang ngikut kontes blog maka dusunlaman jor-joran membicarakan Pertamina. Lagi pula bisa jadi tak akan menang jika isinya hanya protas-protes. Ini bukan kontes kecantikan, ha ha! Alasan pentingnya adalah… membicarakan Pertamina artinya juga membicarakan Prabumulih. Sudah berjuta barel minyak dan entah berapa milyar metrik kubik gas alam disedot dari kota kecil ini.
Sebuah tulisan sebelumnya, Pertamina, BUMN Sapi Perah, ditulis sebagai pertanyaan apakah perusahaan minyak dan gas negara ini gagal berjaya di tingkat internasional karena diperah untuk kepentingan kelompok penguasa?
Buku kontroversial “Membongkar Gurita Cikeas” yang ditulis George J. Aditjondro, menyebutkan SBY memobilisasi dana kampanye melalui 7 BUMN dan semua komisarisnya menjadi tim sukses Parta Demokrat dalam Pemilu lalu. Dusunlaman tak yakin apakah Pertamina tersebut di dalamnya, belum membaca. Buku yang sudah menghilang dari pasaran.
Tapi isyu korupsi, kolusi, dan nepotisme sendiri sudah sejak lama menggurita di tubuh BUMN yang dulu berlogo sepasang kuda laut ini. Jauh sebelum Cikeas menjadi terkenal. Istana masih ada di tangan Cendana. Siapa saja mereka? Silakan lihat tabel daftar rekanan pertamina yang ternyata didominasi linkar cendana.
Sebagai bahan bahan tambahan silakan baca artikel sumber yang digunakan dusunlaman, Rezeki Kakap di Perut Sapi Perah Bernama Pertamina.
Salah satunya adalah rekanan Pertamina yang dekat dengan issue KKN adalah PT Ustraindo Petrogas, milik Ny Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut Soharto). Rekanan Pertamina berstatus Technical Assistance Contract (TAC) adalah alat Tutut untuk menguasai ladang migas Pertamina di 4 lapangan minyak yang sebelumnya dikelola Pertamina. Lapangan Mundu-Jatibarang, Jawa Barat (Unit Eksplorasi III), Pulau Bunyu (Kal-Tim), dan Prabumulih serta Pendopo Sumatra Selatan (UEP II).
Keempat sumur ini bermasalah, dan dicorengi dugaan korupsi yang menyeret nama Ginanjar Kartasasmita dan Faisal Abdaoe.
Pada Pertamina, dalam konteks kekinian, sebagai sang kuda laut, dia harus bisa melawan gurita. Bila praktik korupsi dan perkoncoan tak disikat bersih dari BUMN, misalnya Pertamina, alih-alih menyejahterakan rakyat, untuk menjadi sebuah perusahaan kelas dunia juga jauh panggang dari api.
Kerja keras adalah energi kita yang menjadi slogan Pertamina, harus bisa menjawab ini! Kalau tidak, tetaplah jadi perusahaan sakit gigi. * * *











