subscribe to the RSS Feed

Friday, March 12, 2010

Dosa Lingkungan Pertamina

Posted by Syam on November 9, 2009

rustle-the-leaf-about-polution

“Pada masa kepemimpinan saya, tidak boleh ada setetes minyak pun yang tercecer!”
[Kun Kurnely – Ketika menjabat GM DEOP Prabumulih]*

Kutipan di atas saya ambil dari Harian Umum Sumatera Ekspress (Terbit di Palembang) tanggal 24 Februari 2001. Berita yang dimuat di halaman 20 tersebut berjudul Warga Segera Peroleh Ganti Rugi Pertamina. Anak judulnya, “Kun Kurnely: Itu kelalaian Manajemen Masa lalu”.

Sedianya komitmen ini menyenangkan. Tetapi setelah pernyataan itu keluar, pencemaran akibat aktivitas industri perminyakan di wilayah eksploitasi Prabumulih dan sekitarnya, ternyata tetap terjadi. Berikut daftar beberapa dosa lingkungan paska komitmen penghentian pencemaran oleh Pertamina   [diolah dari berbagai sumber dan catatan pribadi];

  • Maret 2001, minyak mentah tumpah dari sumur minyak Beringin 20. Merusak lahan pertanian masyarakat dan mencemari Sungai Siamang Kecil Desa Suka Merindu, kecamatan Rambang Lubai, Kabupaten Muara Enim.
  • Januari 2004, puluhan hektare lahan warga tercemar minyak mentah di pengeboran P.29 Simpang Basor Desa Sukamerindu, Kabupaten Muaraenim. Pencemaran disebabkan kebocoran pipa transmisi minyak PT Pertamina (Persero) yang sudah berusia tua. (Sriwijaya Post: Pertamina Belum Ganti Rugi Pencemaran Lahan Jumat, 23 April 2004)
  • 15 Desember 2006, minyak mentah sempat menggenangi pemukiman warga. Pipa migas milik Pertamina EP Region Sumatera meledak. Lokasi kejadian berada di area operasi Talang Jimar, Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Prabumulih Timur. (REPUBLIKA Rabu, 04 April 2007).
  • 4 Januari 2007 terjadi pipa gas PT Pertamina Unit Bisnis Limau bocor di Kelurahan Sinar Rambang Dusun I Kecamatan Rambang Kapak Tengah (RKT), Kabupaten Muara Enim. Akibat kebocoran pipa berdiameter 1,5 inchi menyebabkan, Sahrin (36 tahun) menderita luka bakar di sekujur tubuhnya dan harus menjalani rawat inap di RS Pertamina Prabumulih (REPUBLIKA Rabu, 04 April 2007).
  • 2 April 2007, pipa migas milik Pertamina EP Region Sumatera bocor dan meledak pada Senin (2/4) di Dusun Lebuk Lesung, Kecamatan Benakat, Kabupaten Muara Enim (REPUBLIKA Rabu, 04 April 2007).
  • 25 Mei 2007 Minyak mentah tumpah akibat pecahnya pipa mencemari kebun karet dan Sungai Bayas yang dipergunakan warga tiga dusun di Desa Panta Dewa. Kecamatan Talang Ubi
  • 11 Mei 2009 Pencemaran minyak mentah dan air formasi (air asin) terjadi di desa Sukaraja Kecamatan Abab Kabupaten Muara Enim. Bahan pencemar yang tersebut setinggi 15 Meter daru Sumur gas Tua 01.

Daftar di atas bisa jauh lebih panjang jika menyertakan pencemaran lingkungan yang terjadi di luar Prabumulih – Muara Enim. Apalagi seantero Indonesia.

Intinya, setiap saat pencemaran tetap bisa terjadi jika ”KERJA KERAS PERTAMINA” hanya berhenti pada slogan. Untuk menjadi lebih dari sekadar perusahaan kelas dunia, Pertamina mesti berhasil menihilkan konflik lingkungan hidup di area kerjanya. Tidak terus memperbanyak dosa terhadap lingkungan hidup dan masyarakat lokal di sekitar areanya ###

*Gambar diambil dari Rustle the Leaf environment comic strips.

Kerja Keras Adalah Energi Kita | Selamatkan Ekologi Kita

Posted by Syam on October 25, 2009

envirocomic-rustletheleaf

“Kerja Keras Adalah Energi Kita”

Kalimat di atas adalah semboyan baru yang didengungkan Pertamina. Semboyan yang aneh secara tata bahasa. Tanya saja pada guru Bahasa Indonesia SD. Mungkin akan lebih tepat bila diganti misalnya, Kerja Keras adalah Menghabiskan Energi Kita.

Meski aneh, tapi setidaknya semboyan di atas telah menginspirasi tulisan ini.

Lahir dan besar di tanah Prabumulih, membuat saya cukup mengenal Pertamina. Tepatnya pada sektor hulu, dunia eksploitasi minyak dan gas bumi (migas).

Pada aktifitas eksploitasi, ada hasil yang terangkut dan ada sesuatu yang tersisa. Yang tersisa biasanya berupa buangan, seringkali berupa limbah. Secara umum yang saya ketahui dalam kegiatan pengeboran migas paling tidak akan mengangkut 3 material:

  • Minyak dan Gas Bumi
  • Air terproduksi (orang-orang minyak di kampung kami menyebutnya air asin).
  • Lumpur

Dua material terakhir adalah limbah.

Hasil Kerja Keras

Bicara limbah pengeboran migas, Pertamina pada kurun waktu yang lama pernah membuang limbah ke badan sungai Kelekar di Prabumulih. Hingga kondisinya luar biasa mengenaskan.

Hingga pada tahun 2001, Pertamina menyatakan menghentikan pembuangan limbah cair setelah mendapat desakan masyarakat lokal. Setelah satu windu, kondisi air sungai kelekar, secara kasat mata berubah membaik ketimbang sebelumnya.

Perbaikan kualitas lingkungan Kelekar, mengingatkan kembali pada semboyan Perusahaan Migas Nasional ini. Kerja Keras adalah Energi Kita.

Maksudnya perbaikan kualitas lingkungan adalah setidaknya hasil olah energi dalam wujud kerja keras yang dilakukan setidaknya oleh masyarakat Prabumulih, Pertamina, dan alam sendiri.

Jangan Berhenti

Bravo! Di Indonesia, ini mungkin satu dari sedikit sekali kasus kerusakan ekologi yang berhasil diperbaiki. Meski begitu, kontrol tetap perlu di perbaiki. Sebab, meski tak ke badan sungai Kelekar, pencemaran akibat aktifitas menambangan minyak bumi di Prabumulih tetap sesekali terjadi.

Pertamina dan masyarakat Prabumulih (serta individu maupun lembaga yang peduli lingkungan hidup) mesti bekerjasama lagi untuk terus mencegah kerusakan ekologi di masa mendatang.

Sebab mantra “Kerja Keras adalah Energi Kita” bisa dimainkan untuk kelestarian lingkungan hidup. Pastinya!***

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes